[Fanfiction] Sweet and Sour | Bab 1

vernon_sweetandsour

Title : Sweet and Sour
Author : Nona Bell

Starring(s)

17’s Vernon & You (as Han Seul)

Another Cast

17’s Seungkwan; Twice’s Dahyun

dan sisanya tim sukses

Rating : Teen // Genre : School-life. Romance. Friendship // Length : Multichapter

Note : The plot(s) are mine

 

a simple story about
a lucky girl, an annoying boy, and love around them

 

Bab 1
“Kelompok dua, Han Seul, Vernon Choi, Boo Seungkwan, dan Jung Yein.”

Gadis bersurai hitam bergelombang itu segera mencatat nama teman-teman sekelompoknya, begitu nama dia disebutkan pula oleh sang guru. Han Seul.

Ia melirik sekilas ke arah samping kirinya. Seorang gadis manis dengan surai cokelat kayu tengah menatap ke arahnya seraya tersenyum samar. Seul balas tersenyum kecil pada gadis bermarga ‘Jung’ itu. Mencoba membuat kesan baik pada perempuan yang akan menjadi teman sekolompoknya nanti.

Netranya beralih, menoleh sebentar ke arah belakang. Dimana kedua laki-laki yang akan menjadi teman satu kelompoknya duduk. Boo Seungkwan dan Vernon Choi.

“Baguslah, kita sekelompok dengan Seul.” Seungkwan tersenyum sumringah. Menatap gadis di depannya itu dengan berbinar-binar. “Senang bisa sekelompok denganmu, Seul. Tugas kali ini pasti akan terasa mudah! Kau ahlinya dalam hal presentasi dan membuat karya ilmiah.”

Sembrutan tipis mewarnai kedua pipi Seul. Malu. “Aku tidak sepandai itu,” bisiknya. Merendah.

Dibandingkan dengan dirinya yang biasa-biasa saja tingkat kepintarannya. Seul rasa pujian seperti itu seharusnya Seungkwan lontarkan pada Junhoe si peringkat satu, atau Baek Yebin si juara olimpiade matematika. Ia tidak terlalu pandai hitung-hitungan, jadi seharusnya title ‘anak pandai’ tidak disematkan padanya.

Jika title ‘anak pandai’ itu disematkan padanya hanya karena kelihaiannya berbicara dan mengajukan pertanyaan saat presentasi kelas itu agaknya terlalu berlebihan baginya. Ia memang senang mengeluarkan pendapat, dan dia senang mengerjai teman-temannya dengan bertanya hal-hal yang sedikit aneh namun masih masuk akal ketika mereka sedang presentasi. Tidak lebih, tidak kurang.

“Ingat! Presentasinya minggu depan, saya harap kalian menyelesaikannya dengan baik. Baik, sekian untuk hari ini!”

Park Jihyo—si ketua kelas, segera berdiri dari duduknya dan memimpin salam. Yoo-ssaem, segera keluar dari kelas itu dan melangkah menuju kelas yang harus ia isi berikutnya. Ia tipikel guru yang sangat amat tepat waktu masuk ke dalam kelas. Tipe guru yang paling kebanyakan siswa benci.

Helaan napas lega dan sorak-sorai mewarnai kepergian Yoo-ssaem. Beberapa siswa langsung meletakan kepalanya di atas meja. Ada yang berdiri untuk sekedar meregangkan tubuh, ada juga yang segera berkumpul dengan teman-temannya. Melanjutkan pembicaraan yang tadi terpotong karena kedatangan Yoo-ssaem.

Seul memutar kursinya. Menghadap ke belakang. Ia tidak terlalu memperdulikan Dahyun, teman sebangkunya yang mulai tertidur dengan kepala yang mencium meja. Itu hal yang sudah sering Seul lihat dan ia sudah terbiasa untuk tidak mengganggu kegiatan semi-hibernasi temannya itu. Lebih baik ia mendiskusikan tema apa yang ia dan teman satu kelompoknya akan angkat untuk presentasi minggu depan.

“Kalian sudah ada ide untuk temanya?” Netra Seul menyapu perlahan wajah teman-temannya. Dimulai dari Vernon, Seungkwan, dan berakhir pada Yein yang baru saja bergabung.

Seungkwan menggeleng pelan, “belum.”

“Yang jelas kita tidak bisa menggunakan teman ‘kenakalan remaja’, itu sudah digunakan oleh kelompok tiga.” Seru Yein seraya duduk di sebuah kursi yang baru saja ia tarik dari tempatnya.

Seul terdiam sejenak. Berpikir. Mencari-cari sebuah ide segar untuk bahan presentasinya minggu depan. Ia tidak ingin yang biasa-biasa saja.

“Bagaimana jika ‘problematika masyarakat modern’?” Seul menoleh ke arah asal suara. Menatap takjub laki-laki kaukasian itu. Seungkwan dan Yein juga tidak kalah takjub. Oh! Mereka kira seorang Vernon Choi hanya akan berbicara dengan ponselnya saja.

“Ide yang hebat, man!” Seungkwan menepuk bahu Vernon, sedikit kencang. Yang tertepuk hanya meringis pelan.

Yein mengganggukan kepalanya, setuju dengan pernyataan Seungkwan tadi. Ide sebagus itu dan ada Seul di kelompoknya, pastilah dia mendapat nilai ‘A’ untuk tugas kali ini!

Seul tersenyum samar, “tidak pernah terpikir oleh-ku ide sebagus itu.” Gadis itu segera mencatat tema mereka di buku catatannya. “Baiklah, kita mulai saja besok. Aku rasa ini akan selesai dalam empat sampai enam hari. Tergantung kita juga bagaimana mengerjakannya.”

“Kita mengerjakannya di kafe saja, bagaiamana?” Usul Sungkwan. “Ada kafe yang baru dibuka. Belum terlalu ramai, tempatnya nyaman sekali. Aku kesana kemarin bersama Vernon dan Minghao. Tiramisu dan cokelat panasnya enak sekali! Apa kalian tahu cokelat bisa memperbaiki mood kita yang sedang buruk? Aku senang makan cokelat saat sedang badmood. Kenapa ya perempuan tidak suka cokelat karena takut gemuk, padahalkan—”

Vernon segera membekap mulut teman sejawatnya itu, “stop it!

Yein dan Seul menggeleng pelan melihat Seungkwan yang mulai berisik. Dia pria terberisik yang pernah Seul temui. Bahkan lebih berisik dari Dahyun saat tahu jika berat badannya naik. Seul terkekeh pelan,

“baiklah. Besok sepulang sekolah kita berkumpul dulu.” Pernyataan Seul menutup diskusi dadakan tersebut. Yein mengangguk pelan, seraya menarik kursinya ke tempat semula dan mulai bencengkrama dengan teman-temannya.

Seul masih pada posisinya. Duduk menghadap belakang. Ia melirik sekilas ke arah Dahyun yang masih asyik bermesraan dengan meja kelas. Lebih baik dia mendengarkan ocehan tak berkesudahan dari Seungkwan dari pada duduk diam di tempatnya.

“Kau tidak bosan mendengar ocehan si Seungkwan terus?” Vernon sudah melepas bekapan tangannya di mulut Seungkwan. Ia menatap lamat gadis di hadapannya itu. Karena ia duduk tepat di belakang Seul, jadilah setiap gadis itu memutar balik kursinya mereka jadi berhadapan.

“Kau sendiri tidak bosan duduk diam bersama Seungkwan dan mendengar ocehan kami?” Seul balas bertanya. Ia menatap Vernon seraya tersenyum samar. Haruskah sekarang ia merasa senang karena sedang bertatapan dengan salah satu pemuda tampan di sekolahnya itu. Pemuda keturunan kaukasian yang menjadi incaran para gadis yang memiliki mimpi untuk memperbaiki keturunan dengan menikahi Vernon. Oh! Bahkan mereka belum lulus sekolah menengah atas, kenapa pikiran gadis-gadis itu sudah sampai sana?

“Bilang saja kau iri karena aku dekat dengan Seul.” Seungkwan merangkul bahu Vernon. Menatap pemuda itu seraya menaik-turunkan alisnya.

“Untuk apa iri?”

“Untuk apa iri? Oh! tentu saja kau harus iri, karena meskipun aku tidak diincar banyak gadis seperti-mu, tapi aku setidaknya punya bayak kenalan anak perempuan. Dan cukup dekat dengan beberapa di antara mereka.” Seungkwan menunjuk Seul dengan jari telunjuknya. “Seul, misalnya.” Lalu berganti dengan mununjuk ke arah Vernon. “Memangnya kau! Tampan tapi kencannya dengan ponsel.”

Vernon segera menepis lengan Seungkwan yang melingkari bahunya. Ia malah manatap ke arah Seul dan berbicara pada gadis itu,

“kau bisa tahan dengan pria banyak omong seperti dia?”

Seul terkekeh pelan. Entah itu sudah kali keberapa Vernon menanyakan hal seperti itu sejak pertama kali tahu jika ia dan Seungkwan cukup akrab.

“Semua orang punya sifatnya masing-masing. Karakter Seungkwan memang berisik. But, it’s ok!” Seul menopang dagunya dengan telapak tangan kanannya. “Jika aku ingat-ingat, memang kebanyakan teman dekat-ku sifatnya unik semua. Seungkwan yang berisik, Dahyun yang kalem tapi bisa jadi 4D dengan kkap-dancenya. Kau tahu, kan, 4D? Orang-orang dengan kelakuan luar biasa. Aku punya banyak teman seperti itu saat sekolah menengah pertama. Jadi, aku terbiasa dengan sifat orang-orang yang cenderung unik. Lagipula—”

Kedua pipi Seul merona hebat manakal jari telunjuk Vernon menyentuh bibinya. Jantung berdetak sedikit lebih cepat. Oh! Tidak pernah ada pria yang melakukan hal seperti itu padanya. Ia jadi tahan napas saking gugupnya.

“Kau jangan jadi ikut-ikutan berisik seperti Seungkwan.” Ujar Vernon seraya menatap dalam kedua manik gulita milik si gadis. Tatapannya begitu dalam. Bahkan itu sanggup menenggelamkan Seul dalam lautan pesona miliknya.

Ugh! Seul tidak tahan lagi! Gadis itu segera menepis tangan Vernon dari hadapannya.

Atmosfer caanggung tercipta di antara mereka bertiga. Persekian detik berikutnya, Ryu-ssaem telah tiba dengan beberapa buku tebal bertuliskan ‘Biologi’ di tangannya. Seul merasa benar-benar terselamatkan dengan kedatangan wanita empat puluh tahunan itu. Ia segera memutar kembali kursinya ke arah depan. Seperti semula.

Vernon masih diam. Tidak bergeming. Terus menatap punggung gadis di depannya yang tertutupi rambut hitam kelam milik si gadis. Tiba-tiba sebuah lengan menyikutnya pelan,

“cara itu terlalu cheesy! Cobalah lebih lembut.” Seungkwan berbisik pelan seraya membuka buku cetaknya. “Tapi bagus, ada sedikit kemajuan.”

Vernon tersenyum kecut. Seungkwan menilai-nya terlalu cheesy? Ia pun berbisik pelan pada teman sejawatnya itu,

ngomong-ngomong, aku memang iri tadi. Iri karena kau dekat dengannya. Jaga jarak kalian, dia calon-ku.”

Jika kalian tanya, gadis seperti apa yang Vernon sukai. Maka jawabanya gadis seperti Han Seul-lah yang ia sukai. Alasannya sederhana. Seul itu banyak senyum. Banyak tertawa. Dan yang jelas, tidak genit. Oh! Apa kalian tidak tahu jika sebenarnya kaum adam benci kaum hawa yang cendrung berkelakuan genit?

Seul tidak seperti Jung Soyeon yang senang flirting dengan lawan jenis. Vernon suka itu.

Seul tidak seperti Rachel Yoo yang bermuka masam dan jarang tersenyum. Vernon suka itu.

Seul tidak pernah mempermasalahkan bad habit teman-temannya, seperti Sungkwan yang doyan bicara atau bahkan Dahyun yang moody-an. Vernon suka itu.

Vernon menyukai Seul. Itu saja. Sederhana, bukan?

Tapi masalahnya, ia tidak tahu bagaimana caranya agar Seul bisa tertarik padanya.

Seul tidak punya tipe ideal. Itu yang Seungkwan katakan padanya. Dia tidak mempermasalahkan apakah kekasihnya tinggi atau pendek, cuek atau perhatian, dan masalah tampang. Menurut gadis itu, ganteng itu relatif.

Seul pernah berpacaran dengan Jeon Jungkook saat kelas satu. Seorang pemuda tampan yang pendiamnya kelewat parah. Vernon rasa ia lebih tampan dari teman satu angkatannya itu.

Seul pernah dekat dengan senior mereka, Huang Zitao saat kelas dua. Pemuda asal china yang bertampang seram dan pasif. Vernon rasa ia tidak bertampang sangar. Pasti Seul lebih nyaman saat bersamanya ketimbang dengan pemuda china itu.

Tapi Vernon tidak tahu bagaimana ceritanya kedua pemuda itu bisa memiliki hubungan dengan Seul. Ingin rasanya ia bertanya pada mereka, apa yang kalian lakukan sehingga dekat dengan Seul? Tapi ia terlampau gengsi untuk bertanya.

“Seul, kau ingat Tao sunbaenim?” Dahyun mengeluarkan bekal makan siangnya. Meletakannya di atas meja kelas. Seul yang tengah sibuk berkutat dengan keripik kentang bawaan Seungkwan pun menoleh.

“Tentu saja. Ada apa memangnya?”

“Kau tidak pernah bercerita secara lengkap, bagaimana kalian bisa menjadi dekat.” Dahyun mulai melancarkan aksinya. Membantu Vernon agar bisa dekat dengan Seul. Sudah jadi rahasia umum teman terdekat Vernon, jika pemuda itu menyukai Han Seul. Dahyun sendiri baru mengetahuinya dua hari yang lalu dari Seungkwan.

Seul mengerutkan dahinya bingung, “kenapa tiba-tiba bertanya hal itu? Itu, kan, sudah hampir setahun yang lalu. Aku juga sudah tidak ada komunikasi lagi dengannya sejak dia lulus.”

Dahyun memutar otak, “yaa.. tapi kau tidak pernah bercerita padaku secara lengkap tentang pertemuan kau dengannya. Dengan Jungkook juga.” Ia melempar lirikan pada Seungkwan yang tengah menatap ke arahnya juga. Seolah pemuda itu mengatakan, pancing-dia-untuk-bicara.

Sementar Vernon hanya diam dan sibuk memakan bekal milik Seul. Dia berpura-pura sibuk berkutat dengan telur dadar gulung. Padahal hatinya sudah berdebar kencang sejak tadi.

“Kita, kan, baru saling kenal saat kelas dua, Dahyun. Jelas saja kau tidak tahu hubunganku dengan Jungkook.” Seul menjawab enteng. Lalu memasukan sekeping kripik kentang ke dalam mulutnya.

“Ayolah, aku penasaran!” Dahyun melakukan sedikit aegyo pada temannya itu. Memohon. Jika bukan karena merasa iba dengan Vernon. Dahyun bersumpah tidak akan melakukan aegyo seperti tadi di hadapan Seul. Semantara empunya masalah hanya diam dan sibuk makan. Wah! Apa-apaan ini?!

Seul menegak sedikit minuman kaleng di hadapannya. Lalu beralih menatap Dahyun. “Baiklah, baiklah, akan aku ceritakan.”

Vernon menajamkan pendengarannya. Jantungnya berdebar semakin kencang manakala tahu jika Seul akan menceritakan kisah awal mula kedekatannya dengan pria-pria itu.

“Aku bisa dekat dengan Jungkook maupun Tao sunbae karena sering bertukar pesan. Lalu tahu-tahu jadi dekat.” Jalas Seul santai. Sebenarnya ada sedikit rasa sesak acap kali ia mengingat kedua nama pemuda itu. Jungkook adalah kekasih pertamanya dan Tao sunbae adalah pria pertama yang membuat ia merasa nyaman setelah putus dengan Jungkook. Dua-duanya punya bagian tersendiri di hatinya. Entahlah, apa akan ada pria lagi di dalam kehidupannya di tahun terakhirnya di sekolah ini.

“Hanya begitu?” Dahyun tidak percaya dengan pernyataan temannya itu. “Tidak ada pendekatan secara gamblang, seperti jalan-jalan bersama atau hal-hal romantis lainnya?”

Seul menggeleng pelan. “Mereka tidak pernah melakukan hal itu dan kau tahu, kan, aku gadis yang seperti apa? Tidak suka bertindak terlebih dahulu.”

Dan Vernon kini tahu, ialah yang harus mendekati Seul terlebih dahulu.

Jam di sudut ruangan itu telah menunjukan jam sembilan malam tepat. Namun Vernon belum bisa memejamkan matanya. Ia terus menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya. Masih memikirkan cara agar ia dan Seul bisa menjadi dekat. Katakan saja dia sedang merasakan yang namanya cinta gila.

Ia gila akan Han Seul.

Wajah Seul selalu terukir manis di benaknya. Saat gadis itu sedang tersenyum, sedang berbicara, tertawa atau ketika dia tidak sengaja tertidur di kelas. Benar-benar deh! Vernon tidak pernah merasakan yang namanya suka sampai seperti ini.

Ia pernah suka pada tetangganya yang bernama Ashley saat baru pindah ke Korea. Usianya baru terbilang lima tahun kala itu. Masih bocah ingusan. Tapi rasa sukanya kala itu, tidak sampai seperti ia yang menyukai Seul saat ini.

Ia juga pernah suka pada teman sekelasnya saat sekolah menengah pertama. Sempat berpacaran selama kurang lebih enam bulan. Vernon masih ingat betul namanya. Minyoung. Tapi rasa sukanya kala itu, tidak sampai seperti ia yang menyukai Seul saat ini.

Mungkin ini yang namanya cinta pertama sungguhan.

Vernon rasa, perempuan-perempuan sebelumnya dalam hidupnya hanyalah cinta monyet. Kau tahu, istilah untuk kisah percintaan bocah ingusan.

Dan sekarang Vernon bukan bocah ingusan lagi.

Pemuda itu meraih ponselnya. Membuka aplikasi Line yang ada di ponselnya. Lalu mencari kontak milik Han Seul. Ia terdiam sejenak. Haruskah dia menyapa Seul? Sekedar mengucapkan selamat malam.

Persetan dengan rasa gengsi.

Lebih baik sedikit malu daripada menyesal seumur hidup.

Jemari pemuda itu beradu dengan layar ponsel. Mengetikan sebuah pesan singkat pada gadis pujaannya.

Vernonchwe : Malam.

Singkat, jelas, dan padat. Vernon tidak tahu lagi ingin mengucapkan apa pada gadis itu. Persekian detik berikutnya, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Vernon.

Sebuah pesan balasan dari Seul.

Hanseul : Malam, Vernon. Ada apa?

Seul benar-benar tidak suka berbasa-basi. Vernon menghela napas berat. Memikirkan sekiranya apa yang akan dia jadikan alibi karena telah mengganggu kegiatan gadis itu.

Vernonchwe : Apa aku mengganggumu?

Hanseul : tidak kok. Ada apa? Tidak biasanya mengirim pesan

Seul benar. Vernon memang sangat amat teramat jarang mengirim sebuah pesan padanya. Alasanya sepele. Vernon terlalu malu.

Vernon memutar otak. Memikirkan sebuah topik bahasan yang akan ia gunakan untuk mengobrol dengan gadis itu.

Vernonchwe : besok kita jadi pergi?

Otak Vernon sudah buntu. Tidak ada topik bagus yang terlintas dibenaknya.

Hanseul : Tentu saja, jadi. Kenapa? Apa kau tidak bisa ikut?

Vernonchwe : Tidak pa-pa. Aku hanya memastikan

Hanseul : Maaf, Vernon. Aku sudah mengantuk. Selamat malam

Vernon tersenyum getir. Oh! Singkat sekali percakapan mereka.

Jemari Vernon gatal. Ingin mengetikan kata-kata manis seperti ‘have a nice dream’ atau setidaknya ‘semoga kita bertemu dalam mimpi’. Please, itu terlalu cheesy bagi Vernon. Dan sebuah balasan sederhana pun ia kirim-kan untuk Seul.

Vernonchwe : Baiklah. Selamat malam juga. Sampai bertemu besok

Vernon menghela napas keras. Kenapa sulit sekali melakukan pendekatan.

 
To be continue


 

yuhuuu~~ ini ff comeback dan ff perdana ku dengan main cast anak seventeen ❤

lagi seneng cerita yang latarnya es-em-a nih. mungkin efek mau lulus sekolah ;___;  //loh

apalagi kisa cinta-cintaan anak es-em-a sebenarnya beragam(?) dari cinta pertama, ada yang di-php-in, di-pho-in, sampe kisah banyak-banyakan ngumpulin mantan(?)

itu semua bikin greget maann ;__;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s